Kamis, 20 Desember 2012

Kumpilan Makalah Kel: 12 Gerakan Arya Samay




Gerakan Keagamaan dalam Agama Hindu
Dipengaruhi Kristen

Makalah
Disusun untuk memenuhi  Syarat pada mata kuliah Hinduisme
Dosen Pembimbing :Hj. Siti Nadroh, M.Ag
Oleh:
Lailatul Fawaidah (1111032100053)







JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
     FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
2012


                               I.            PENDAHULUAN
Arya Samaj adalah sebuah gerakan reformasi Hindu modern yang didirikan oleh Swami Dayananda Sarasvati, pada tahun 1875. Arya Samaj atau masyarakat Arya, menjadi kuat ketika berada di Punjab,cabangnya di Mumbay (d/h Bombay) yang di dirikan pada tahun1876, mengikuti model Brahmo Samaj (Masyarakat Tuhan) yang didirikan oleh Ram Mohan Roy dan Debendranath Tagore. Penyatuan  kedua gerakan ini tidak berhasil karena keyakinan Swami Dayananda Saravati atas kebenaran mutlak dari Weda, sementara Brahmo Samaj mengambil sebagian ajarannya dari agama Kristen, Para pengikut Arya Samaj menentang pemujaan murti atau patung, serta ingin menyederhanakan ritual Hindu. Interpretasi Swami Dayananda Sarasvati atas Weda ditemukan dalam bukunya berjudul "Vedabhasya"[1]. Para pengikut Arya Samaj tidak mentoleransi pemisahan berdasarkan kasta dalam masyarakat Hindu. Mereka memperkenalkan ide baru untuk mengkonversi orang-orang dari agama lain kedalam agama Hindu, terutama orang-orang Hindu yang sebelumnya beralih ke agama lain (rekonversi). Arya Samaj melakukan karya-karya yang tak ternilai harganya dalam melenyapkan ketidak adilan sosial. Arya Samaj dewasa ini menjadi gerakan global yang bekerja di seluruh dunia.[2]


                            II.            SITUASI SOSIAL POLITIK, KEAGAMAAN INDIA DENGAN MASUKNYA INGGRIS PADA ABAD KE-18-19
Pada tahun 1498, seorang berbangsa Portugis, Vasco dan Gama mendarat di pantai Kerala dan berhasil menanamkan pengaruh portugis di Goa pada tahun1510. Mengingat Portugis tidak memiliki sumber daya yang mencukupi untuk mempertahankan daerah jajahanya, maka kekuasaannya berangsur-angsur digantikan oleh bangsa Eropa lainnya, yaitu Ingris. Spanyol, Belanda dan Perancis. Inggris mulai memasuki India melalui British East India Company dan berhasil mambuka pelabuhan-pelabuhan dagang di Madras (1640), Bombay / Mombai (1668) dan Calcutta (1690).
Kekuasaan Inggris yang semula lebih bersifat dagang, kamudian mulai melakukan penguasaan secara fisik dan politis, mencapai puncaknya dalam pertempuran Buxar pada tahun 1756 melawan para raja India. Kemenangan dalam pertempuran tersebut memberikan Inggris kekuasaan atas daerah-daerah Benggala, Bhar, dan Orissa yang kemudian dalam waktu kurang dari setengah abad disusul dengan kekuasaan atas bagian-bagian lain India.[3]
Pada tahun 1842, pemerintahan Inggris mengambil alih kekuasaan atas India dari British East India Company dan dengan demikian secara mutlak menancapkan kekuasaaanya atas India. Inggris selanjutnya menempatkan seorang gubernur Jenderal di India sebagai wakil mahkota dan pemerintahan.
Perlawanan terhadap penjajahan Inggris diawali pada akhir abad ke-19 atau sekitar Tahun 1.754-1905 M. orang-orang Inggris datang ke India untuk mengawali penjajahan yang di mulai dari kota Delhi, dan di akhiri sampai Tahun 1947 M. melalui penjajahan ini, mereka juga membawa dan menyebarkan Agama Kristen melalui misioneris-misioneris, di samping itu juga mereka menyebarkan kebudayaan Barat. Misioneris datang  dalam jumlah yang besar terjadi pada Tahun 1813 M. dimana para misioneris ini Mendiskreditkan[4]agama Hindu dan berusaha mengkonversi[5] orang-orang Hindu untuk masuk Kristen, dengan cara mendirikan sekolah-sekolah, rumah sakit dan pusat pelayanan umum lainya dengan bantuan pemerintah Inggris, dan upaya ini berhasil menarik simpati orang hindu, terutama dari kasta Pariah (lower caste) untuk berpindah agama. Sehingga ini menjadi tantangan yang sangat berat bagi agama dan kebudayaan hindu.
Untuk melawan propaganda Kristen tersebut maka para cendekiawan hindu yang telah menyelesaikan studinya di luar negeri mulai melakukan reformasi ajaran agama Hindu, peristiwa itu terjadi antara Tahun 1850-1950M. golongan cendekiawan dan sarjana-sarjana yang melakukan reformasi ini yang paling utama adalah yang belajar di Inggris dan Negara-negara Eropa lainya.
Mereka ingin memberikan pengertian yang benar dan sejati mengenai agama Hindu dengan jalan menafsirkan agama Hindu secara modern, dan penafsiran itu berdasarkan atas logika dan reosionalitas serta mengajarkan prinsip-prinsip dan dasar-dasar agama hindu yang praktis dan modern sekaligus membangun kehidupan social sesuai dengan zaman modern.            
 Gerakan golongan rasional ini muncul secara serentak, terutama di India Timur yang berpusat di Kalkuta. Ini merupakan gerakan yang radikal dengan merombak agama Hindu sedemikian rupa. Mereka juga memasukan ajaran-ajaran yang baik dari agama Kristen, Islam, Buddha, Zoroaster, dan lain-lain menjadi ajaran agama Hindu (Upanisadic thought), sehingga agama Hindu menjadi lebih modern dan maju (Mahajan,1990:641-643;Rajeev, 1990:36). Kaum rasional ini mengajarkan nilai-nilai universal dari Hindu, mengajarkan Hindu sebagai “way of life” (jalan hidup); menolak dogma-dogma agama dan takhayul; pemikiran yang bebas dan toleran, serta mengedepankan logika dan rasio.
            Periodisasi zaman Gerakan Hindu Modern (Neo Hinduism)      (Narang, 1969:87) di India pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua yatu gerakan yang muncul sebelum India mer
deka (pre Indian Independence) dan gerakan muncul setelah India merdeka (Post Indian Independence). Namun demikian, berdasarkan pokok-pokok ajarannya gerakan ini dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu golongan reformis (pembaharuan Hindu) dan golongan revivalis (kebangkitan kembali Hindu) (Grover, 1998:382). Pemimpin gerakan reformasi yang terkenal adalah Raja Ram Mohan Roy, Mahatma Gandhi, Dewemdranath Tagore, dan lain-lain. Pemimpin-pemimpin gerakan revivalis adalah Swami Dayananda Saraswai, Ramakrishna Paramahamsa, Swami Wiwekananda, dan lain-lain.[6] Untuk mencapai tujuan tertinggi orang tidak perlu beralih agama 
 Bersamaan dengan berlangsungnya gerakan Hindu Modern di India, rupanya juga terjadi gerakan kebangkitan agama Buddha (Narang, 1969:98).
Seperti diketahui bahwa pada sekitar abad ke-14 Masehi, agama Buddha hampir sama sekali lenyap di India. Dr. B. R. Ambedkar (1.891 – 1.956 M), seorang sarjana hukum dari kasta Pariah (di luar catur warna) adalah pelopor pendiri gerakan Neo-Buddhisme di India. Gerakan B.R. Ambedkar ini dimulai dari Maharasta (Grover, 1998:402). Dari sini Ambedkar menyebarkan ajaran- ajaran barunya yang disebut Agama Buddha Baru atau Neo-Buddhisme ke seluruh India. Pada tahon lima piluhan, ia sudah mendapat pengikut lebih dari tiga puluh juta, terutama dari golongan Pariah atau orang-orang yang tidak boleh disentuh (untouchability). Ajaran-ajaran Neo-Buddhisme ini mengambil ajaran-ajarn dari agama Buddha Hinayana (Rajeev, 1990-66; Grover, 1998:402).
            Meskipun gerakan reformasi ini tampak berkembang pada zaman ini, tetapi sesungguhnya juga muncul penentangan dari kelompok Brahmanisme ortodoks. Salah satunya adalah gerakan Hindu Ortodoks yang dipimpin oleh Raja Radakant Deb yang disebut Gerakan Dharma Sabha (Dharma Sabha Movement) pada tahun 1.850 Masehi. Gerakan ini murni dilakukan untuk menentang ajaran agama Hindu dari kelompok reformis dan revivalis (Grover, 1998:384). Berikutnya juga, muncul gerakan Hindu Ortodoks lainnya. Gerakan ini selain menentang ajaran kelompok reformis dan revivalis, juga aktif dalam gerakan politik menentang penjajahan Inggris menjelang India merdeka.[7]
                         III.            ASAL - USUL  ARYA  SAMAJ

Pengaruh kebudayaan Barat memberikan dampak menentukan bagi Hinduisme. Walaupun Hinduisme  popular dan tradisional tetap menguasai masyarakat umum,  namun orang-orang terpelajar sangat – sangat dipengaruhi oleh  ide-ide baru  yang  datang dari Barat. Rasionalisme dan Positivisme cukup memikat pikiran orang-orang yang tidak puas dengan Hinduisme tradisional. Berbagai gerakan reformasi  dimulai, dimana Brahmo-Samaj, Arya-Samaj,dan Ramakrisna Mission merupakan  gerakan yang paling penting. Secara umum dapat dikatakan bahwa  hubungan  dengan  Barat telah membuat penganut Hinduisme lebih sadar akan keniscayaan untuk menjaga nilai-nilai tradisional Hinduisme, walaupun mereka harus menyesuaikan diri dengan  melintas modern.
Masuknya orang-orang Inggris sebagai penjajah membuat Hinduisme memenghadapi situasi yang berbeda secara kualitatif, serta mengurangi kekuatan Islam, namun Hinduisme harus menghadap sebuah kekuatan  baru, yakni agama Kristen. Pada saat yang sama, Hinduisme dihadapkan dengan sebuah ancaman baru, yakni:  sain, sekularisme dan humanisme. Justru melalui inisiatif orang-orang Barat, pengetahuan tentang Hinduisme ditemukan kembali dan termasuk studi atas kitab Weda. Dampak bagi pengikut Hinduisme tampak dari pernyataan orang  seorang tokoh nasionalis seperti  Swami  Vivekananda  bahwa Max Muller yang mengedit Rig-Weda dimasa modern mungkin adalah reinkarnasi dari Sayana  di masa kerajaan Vijayanegara.
Walaupun ada sejumlah unsur yang dipertimbangkan untuk menjelaskan kebangkitan kembali Hinduisme setelah tahun  1800, namun dari sisi Hinduisme sebagai system religious, orang harus mengenali peran Weda dalam proses tersebut.  Pada masa reformasi awal, justru isu tentang Weda dan otoritas Weda muncul kembali kepermukaan. Tokoh reformasi  Hindu  pertama adalah  Raja Rammohun  Roy  berusaha untuk  membenarkan monoteisme  yang berbasis Vedanta. Sekitar 1830, dia mendirikan gerakan Brahmo Samaj  di wilayah Bengal untuk melanjutkan perjuanganya. Kemudian di akhir abad ke-19, Swami Dayananda Saravati mendirikan gerakan  Arya Samaj di Bombay, memperkuat keabsolutanWeda yang telah dicetuskan oleh gerakan Brahma Samaj.
Menjelang akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, perkembangan Hinduisme mengalami sebuah proses pembalikan. Pada perkembangan sebelumnya, tradisi Hinduisme memperkeras posisinya untuk mempertahankan otoritas Weda karena  di bawa tekanan  Buddhisme,  Jainisme dan Materialisme. Di masa modern, walaupun Hinduisme sekali lagi mendapat tekanan dari sumber Kristiani  yang  rasional,  modernis, dan reformis, Hinduisme tidak bereaksi dengan cara yang sama. Hinduisme sekarang  meninggikan religious di atas otoritas religious dan tidak lagi terikat pada otoritas Weda. Sri Ramakrisna kadang kala melakukan penolakan terhadap Weda dan hanya menggunakanya sebagai simbul. Kemudian Swani  Vivekananda  juga pada saat tertentu meremehkan otorita Hindu berkata: “Jika saya mengutip sebuah teks dari Weda dan memberikan arti yang tidak masuk akal… maka semua orang bodoh akan mengikuti saya”. Dia tidak ragu untuk mengatakan ini dalam ceramah-ceramahnya.[8]



                         IV.            PENYEBAB TIDAK BERHASILNYA  MENGGESER DOMINASI  HINDUISME

1.      Hinduisme  adalah  agama yang Inklusif[9]  (mampu menyerap & memasukkan agama mana saja kedalam  sistemnya
2.        Masyarakat  India  sendiri cukup betah dengan sistem kasta : lapisan bawah (sudra, paria) menerima statusnya  sebagai bagian dari takdir ilahi (karma; samsara), yang hanya bersifat sementara, menunggu atman bertemu dengan brahman, baik lewat proses samadi maupun lewat kematian  ( roh manusia mencapai nirwana)
3.                      Sementara gereja lebih menampilkan wajah barat berdasarka keyakinan bahwa India dapat dibebaskan  dari belenggu kemiskinan dan penderitaan jasmani dan rohani bika mereka semua di-Kristenkan dan di- Baratkan.[10] 

                            V.            SLOGAN  ARYA  SAMAJ
Slogan  Arya Samaj adalah kembali kepada Weda ” dengan tekanan pada usahanya untuk membuktikan bahwa segala hasil perkembangan ilmu pengetahuan  modern pada dasarnya telah terdapat dalam kitab-kitab Weda.[11]

                         VI.            TUJUAN  ARYA  SAMAJ
Tujuan Arya Samaj adalah untuk memperbaharui  Agama  Hindu  supaya  dapat bersaing dengan agama-agama yang lain  dan bagaimana dapat mengadakan sintese antara  yang  kuna dan  yang baru,  antaraTimur dan Barat,  agar  orang  dapat  memberikan jaminan akan keagungan akal dan roh India. Menyebarkan faham keesaan Tuhan dengan berlandaskan  kitab suci Hindu yaitu Veda.
 Mereka berpendapat bahwa masyarakat  modern dapat diatur dan diselenggarakan dengan  Veda. Veda  dianggap sebagai sumber  kebenaran.[12]



                      VII.            TOKOH-TOKOH  ARYA  SAMAJ
a.       Swami Dayananda Saraswati
Gerakan Arya Samaj didirikan Oleh Swami Dayananda Saraswati pada (1824-1884), Swami Dayananda Sarasvati lahir pada 12 februari, 1824 di Tankara, dekat Morbi di Kathiyawad wilayah (kabupaten Rajkot) dari Gujarat.
Ketika ia lahir, ibunya Padiben tidak suka melihat dia. Dia memberinya kepada ayahnya dan berkata, "Ini bukan anakku" Karena dia lahir di bawah nakshatra mul. Nama asli Swami Dayanand Saraswati adalah Mool Shankar Tiwari. Ia dilahirkan dalam keluarga kaya Brahmana.
Sebagai seorang anak, Dayananda dibesarkan di bawah kekuasaan Brahmana ketat, dan pada usia delapan dia diinvestasikan dengan Thread Suci (Upanayna). Ketika ia berusia empat belas ayahnya membawanya ke kuil pada kesempatan Shivaratri. Dayananda  harus cepat dan tetap terjaga sepanjang malam dalam ketaatan kepada Tuhan Shiva. Di malam hari ia melihat tikus menggigit persembahan kepada Tuhan dan berjalan di atas tubuh Siwa. Dia mencoba untuk mencari tahu mengapa hal ini dari para tetua "Allah SWT" tidak bisa membela diri terhadap ancaman dari tikus kecil, yang ia ditegur. Insiden ini  membuat hancur iman Daya Nanda Saraswati dalam penyembahan berhala dan setelah itu ia menolak untuk berpartisipasi dalam ritual keagamaan untuk sisa kematian life. Di  awal remaja dia akan menikah, seperti yang umum di abad kesembilan belas India, namun ia memutuskan menikah bukan karena dia dan pada tahun 1846 lari dari rumah.
Pada usia sembilan belas Dayananda Saraswati lari dari rumah untuk melarikan diri dari pernikahan paksa. Ia tertangkap dan dipenjarakan. Dia melarikan diri lagi di tahun 1845, Selama lima belas tahun ia mengembara di seluruh negeri dalam mencari seorang guru. Pada 1860, ia menemukan guru dan mentor Swami Virjanand Saraswati di Mathura. Dia buta.
Dayananda Saraswati menghabiskan hampir dua puluh lima tahun, 1845-1869, sebagai seorang pertapa mengembara, mencari kebenaran agama. Seorang pertapa adalah seseorang yang menyerah barang material dan menjalani kehidupan penyangkalan diri, yang ditujukan untuk hal-hal rohani. Dia tinggal di hutan, di retret di Pegunungan Himalaya, dan di sejumlah situs ziarah di India utara. Selama tahun ini Dayananda Sarasvati mempraktekkan berbagai bentuk yoga. Birajananda percaya bahwa Hindu telah menyimpang dari akar sejarah dan bahwa banyak dari praktik telah menjadi tidak murni. Dayananda Saraswati menjalani pelatihan ketat di bawah Swami Virjanand Saraswati. Virjanand Saraswati memberinya Dayananda nama dan sebagai guru dakshina diekstraksi janji dari Dayananda bahwa ia akan mengabdikan hidupnya untuk kebangkitan Hindu.
Dayanand Saraswati melakukan tur seluruh daerah, membuat pidato berapi-api mengutuk sistem kasta, penyembahan berhala, dan perkawinan anak. Dia menganjurkan usia ideal untuk seorang gadis menjadi antara 16 dan 24, dan bagi pria antara 25 dan 40. Dayanand Saraswati adalah pemimpin pertama dalam bidang teologi yang menyambut kemajuan ilmu dan teknologi. Baginya, Veda sebagai buku sumber mengandung benih ilmu pengetahuan, dan kepadanya, Veda mendukung filsafat realisme dinamis.
Dayanand Saraswati didirikan Arya Samaj di Mumbai pada tahun 1875 untuk mempromosikan pelayanan sosial. Arya Samaj, mendalilkan dalam keadilan prinsip yang sama bagi semua orang dan semua bangsa, bersama-sama dengan kesetaraan gender. Ini repudiates sistem kasta turun-temurun, dan hanya mengakui profesi atau serikat, sesuai dengan bakat pelengkap laki-laki dalam masyarakat. Dia mengutip Veda dan teks-teks agama lainnya yang isinya bersikeras bahwa keselamatan bukan hanya moto Hindu atau Arya, seperti yang diyakini. Untuk menjalani kehidupan duniawi berbuah, bekerja untuk sebuah tujuan mulia itu penting, dan ia berkhotbah bahwa keselamatan adalah mungkin melalui pelayanan sosial.
Karena pemikiran yang radikal, Swami Dayananda telah mengakui sisi musuh dari semua bidang kehidupan. Pada kesempatan Deepavali pada tahun 1883, ia adalah seorang tamu dari maharaja dari Jodhpur. The Maharaja sangat ingin menjadi muridnya dan belajar ajaran-ajarannya. Suatu hari Dayananda pergi ke kamar kecil Maharaja dan melihat dia dengan seorang gadis bernama tari Nanhi Jan Dayananda berani meminta Maharaja untuk meninggalkan gadis dan semua tindakan tidak etis dan mengikuti dharma seperti Arya benar.
 Saran Dayananda yang membuat tersinggung gadis tari dan dia memutuskan untuk membalas dendam. Dia menyuap  juru masak Dayananda untuk meracuninya. Saat tidur, juru masak membawakan segelas susu yang mengandung racun dan kaca bubuk. Dayananda minum susu dan pergi tidur hanya untuk bangun kemudian dengan sensasi terbakar. Ia segera menyadari bahwa ia telah diracuni dan berusaha untuk membersihkan sistem pencernaan nya zat beracun, tapi itu terlambat. Racun telah memasuki aliran darah. Dayananda terbaring di tempat tidur dan menderita sakit luar biasa. Banyak dokter datang untuk memperlakukan dia tapi semua itu sia-sia. Tubuhnya ditutupi seluruh dengan luka pendarahan besar. Pada melihat ini Dayananda menderita, juru masak merasa bersalah dan penyesalan yang tak tertahankan, kemudian dia mengakui kejahatannya ke Dayananda. Di ranjang kematiannya, Dayananda memaafkannya dan memberinya sekantong uang dan menyuruhnya untuk melarikan diri ke kerajaan supaya ia dapat menemukan dan dieksekusi oleh pria Maharaja. Swami Dayananda Saraswati menghembuskan nafas terakhir meneriakkan "Om".[13]

b.      Ramakrisna Paramahamsha

Ramakrisna Paramahamsha (1834-1886), adalah seorang imam di Calcutta yang mengalami bahwa tidak ada perbedaan antara dirinya dengan Tuhan. Hanya Tuhan ada padanya dan tidak ada yang lain. Ia dapat belajar tentang agama Islam dan Kristen dan ia mengklaim bahwa perbedaan agama hanyalah merupakan perbedaan cara dan jalan menuju Tuhan.[14]
Nama kecilnya Ramakrisna Paramahamsha  adalah  Gadahar Chattopadyay.  Dia berasal dari keluarga Brahmana di desa kamarmukur, Benggal, Pada usia 20 tahun  dia menjadi Pujari (Sejenis Pemangku) di sebuah kuil. Ramakrishna adalah seorang revivalis yang lahir dalam kalangan tradisi, bukan dari pendidikan modern. Namun, dia mengakui bahwa dalam meditasinya telah berhasil merealisasikan berbagai wujud Tuhan seperti, Krishna, Rama, Yesus, dan lain-lain (Sharma, 2002:284). .[15]
            Ajaran-ajaranya itu berpangkal pada bermacam-macam kepercayaan yang ada. Yang sebenarnya menuju pada satu tujuan perealisasian Tuhan.[16]
Keyakiana ini baginya bukan hanya suatu ajaran  yang di dapat ole akalnya, melainkan suatu keyakinan yang dilahirkan oleh pengalaman.[17]
Gerakan Ramakrishna Mission juga mengajarkan paham :
·         Paham monisme absolut dan memandang dunia sebagai ilusi atau maya
·         Mengakui Brahma adalah nyata, dan merupakan wujud  mutlak atau Tuhan yang impersonal.[18]
Memahami pemikiran Ramakrishna merupakan suatu usaha yang cukup sulit karena dapat keliru dalam menanggapiarah yang sebenarnya. Pemikirannya lebih bersifat intuitif dari pada intelektual, sehingga kalau hanya menekankan pada segi intelektualnya saja, maka ibarat orang pergi ke kebunbuah-buahan bukan untuk memakan buahnya tetapi hanya berspekulasi menghitung-hitung cabang masing-masingpohon dan daun pada setiap cabang tersebut.[19]
Keyakinan Ramakrishna adalah persaudaraan yang Universal (Tatawa asih) dan Tuhan semesta.
Sri Ramakrisna adalah orang tulen, yang sudah bertahun-tahun sebagai Bhakta memuja Ibu ilahi di kuil Daksinaswar, di dekat Calcutta. Sesudah itu ia mulai dengan memberitakan agama Hindu yang dimurnikan dan mengumpulkan beberapa murid yang dengan rajin meneruskan ajaranya.
Murid-murid ini mempergunakan cara misi atau zending. Mereka mendirikan gedung-gedung sekolah, rumah sakit, dan poliklinil-poloklinik, serta mrnggambarkan agamanya dengan surat selebaran dan bacaan-bacaan lainya.
Tujuan Ram Krisna Mission ialah untuk membersihkan Hindu agar orang Hindu jangan menjadi Kristen.
Murid Sri RamaKrisna yang paling terkenal adalah Swami Vivekananda. Ia mencoba memberikan keterangan yang modern terhadap agama Hindu.[20]
c.       Swami Vivekananda

Swami Vivekananda (1843-1902) adalah Penerus dari Ramakrishna Paramahamsa yang Lahir dari keluarga Ksatrya dengan nama kecil Narendra. Kehidupannya terbilang cukup singkat karena dia meninggal di usia 39 tahun (1.863 M–1.902 M). Swami Vivekananda adalah pendiri Wedanta Samaj dan Ramakrishna Mission (1.897 M). Vivekananda mendapatkan pendidikan berbahasa Inggris dan mempelajari berbagai macam aliran filsafat, baik barat maupun timur. Kecerdasan dan keberanian telah mengantarnya ke konferensi agama-agama (All Word Religious Conference) di Chicago dan berpidato di sana, pada tahun 1.893 M. Pidato ini menjadi rujukan untuk memahami ide-ide Swami Vivekananda tentang agama.
Swami Vivekananda mengajarkan ajaran Neo Hinduisme untuk meninggalkan semua takhayul. Ajaran agama yang harus diikuti adalah ajaran yang rasional (Vedantic Doctrine). Bagi Vivekananda, kepercayaan kepada dogma-dogma agama adalah yang nomor dua, karena pelayanan dan pengabdian kepada sesama lebih utama dari itu (Rajeev, 1990:39; Grover, 1998:389; Sharma, 2002:285). Dia adalah pengikut fanatik ajaran Karma Marga. Menurutnya, setiap orang akan menjadi suci apabila orang mempersembahkan dirinya sendiri kepada Tuhan berdasarkan cinta kasih dan melayani sesamanya dengan penuh kasih sayang. Spiritualitas lebih penting dari upacara agama. Seperti juga gurunya, Vivekenanda meyakini bahwa semua agama (Sarwa Dharma atau The Truth of All Religions) mengajarkan jalan untuk bersatu dengan Tuhan.[21]
Karma-yoga atau pelayanan tanpa mengharpakan upahnya, adlah persiapan yang terbaik guna memimpin jiwa kepada tujuanya. Oleh karena itu musuh yang terbesar bagi kerohanian aialah permusatan perhatian kepada dirinya sendiri. Aku manusia harus ditaklukan kepada pelayanan yang menyangkal diri sendir. Tuhan silayani di alam orang-orang yang sengsara dan yang di injak-injak. Vivekananda memeberitakan : “satu-satunya Tuhan yang saya percaya ialah jumlah dari keseluruhan jiwa, bahkan lebih dari itu, saya percaya kepada Tuhanku, yang terdapat pada orang-orang jahat, orang-orang yang sengsara, orang-orang yang miskin dari segala bangsa”. Itu dalah berita keselamatan yang dibawa Ramakrisna bersama-sama dengan para pengikutnya.[22]
Swami Vivekananda juga seorang tokoh terbesar yang sangat berpengaruh dalam “mendinamiskan agamaHindu”. Ia menafsirkan ajaran Advaita dengan tafsiran yang mampu membawa kebangkitan agama Hindudengan menekankan pada nasionalisme dan usaha-usaha kemasyarakatan. Dia juga mengatakan bahwa India memerlukan otot dari baja, yang hanya dapat tercapaikalu cita-cita Advaita, cita kesatuan, dapat dimengerti dan terwujud. Mengenai brahman, vivekananda memebrikan pengertian yang kemudian merupakan suatu permulaan bagi suatu agama baru. Interprestasinya sangat berpengaruh di kalanagan bangsa India. Dimana tafsiran Advaita itu selanjutnya mengatakan bahwa Tuhan dan tanah air India adlah satu; membebaskan tanah air adalah juga membebaskan tuhan. Dan konsep maya, menurut dia, bukanya memberikan pengertian ilustrasi semata, tetapi melalui maya justru dapat dimengerti “realitas” yang sesungguhnya sehingga menjadi jelas bahwa Advaita bukan bersifat pasif tetapi sebaliknya, bersifat aktif. Brahma itu sendiri menurut Swami Vivekananda adalah nyata. Dengan demikan dapat dikatan bahwa gerakan ini sebenarnya bukan merupakan keagamaan saja, tetapi juga merupakan gerakan kebangsaan India.[23]

                   VIII.            AJARAN-AJARAN GERAKAN ARYA SAMAY

Ajaran pokok bagi Arya Samaj adalah untuk mengembalikan dan memperbaiki  agama Hindu untuk memperkuat teknologi modern di India dan menolak dominasi Barat. Baik dalam dalam bidang pemikiran, agama, moral, maupun dalam politik.
Ajaran pokok untuk menjadi seorang anggota Arya Samay, harus memperhatikan dan  memenuhi sepuluh ajaran yaitu:
1)      Tuhan adalah sebab pertama dari segala ilmu pengetahuan yang benar dan     segala sesuatu  yang dikenal nama-Nya.
2)      Tuhan adalah segala kebenaran, segala pengetahuan, segala sikap perbuatan. Tuhan berdiri sendiri,  tidak bergantung pada apapun. Tuhan mahabesar, adil, mahakasih,  tidak diperanakkan, tidak terbatas, tidak berubah-ubah, tanpa permulaan, tidak dapat diperbandingkan, sumber dari segala kekuatan, meliputi segala sesuatu, mahatahu, tidak akan musnah, kekal abadi, bebas dari rasa takut, mahasuci, dan merupakan sebab dari alam semesta. Hanya kepada-Nyalah sesembahan diberikan.
3)      Weda adalah kitab pengetahuan yang benar dan orang-orang Arya wajib membacanya, wajib mendengarkannya dengan baik pada waktu kitab tersebut dibaca, wajib mengajarkan dan mengembangkannya kepada orang lain.
4)      Orang  harus menerima kebenaran dan menolak  yang tidak benar.
5)      Segala perbuatan hanya dilakukan dengan mengharapkan kebaikanya semata dan harus dilakukan setelah mempertimbangkan baik buruknya terlebih dahulu.
6)      Tujuan utama dari Samaj adalah berbuat baik dan melakukan kebaikan di dunia dengan meningkatkan perbaikan jasmani, rohani dan keadaan social manusia.
7)      Segala sesuatu harus dinyatakan dengan rasa cinta kasih, adil, dan menjungjung tinggi kebaikan.
8)      Ketidak-tahuan harus dihilangkan dan pengetahuan  yang  benar harus diresapi.
9)      Tidak seorang pun berpendapat bahwa dirinya saja  yang  baik.  Orang harus  menghargai kebaikan  orang lain.                                                       
10)   Menjunjung tinggi yang bermanfaat bagi keadaan social seluruh masyarakat dan tidak boleh memperturut diri mencampuri  orang lain; akan tetapi dalam masalah pribadinya seseorang boleh berbuat  bebas.[24]

                         IX.            KEBAKTIAN  ARYA  SAMAJ

Kebaktian  yang dilakukan pada hari Minggu gerakan ini barang kali agak terpengaruh oleh agama Kristen.
Kebaktian itu dilakukan dengan menyanyikan kidung-kidung, doa-doa, khotbah, ibadat korban sebagaimana yang diajarkanWeda. Organisasi gerakan ini sangat kuat dan memiliki sikap anti asing atau Kristen  yang sangat kuat. Tetapi dalam hubungannya dengan  Islam, gerakan ini mampu hidup bersama-sama untuk jangka waktu  yang  cukup lama[25]

                            X.            KEYAKINAN GERAKAN ARYA SAMAJ

Gerakan ini menyakini bahwa kitab Weda adalah Abadi dan merupkan dasar dari agama hindu, akan tetapi menafsirkannya  sedemikian rupa sehingga kadang-kadang dianggap tidak beralasan oleh orang-orang Hindu yang beraliran ortodoks (terutama dikalangan Shanata Dharmis). [26]

                         XI.            KESIMPULAN
Gerakan Arya Samaj adalah sebuah sekte reformasi yang kuat dan modern, dimana agama Hindu ini tidak hanya menyentuh aspek kerohanian manusia saja, melainkan sudah menjadi pandangan hidup, nafas kebudayaan dan landasan struktur kemasyarakatan. Dimana pengaruh Barat  hadir dengan corak  teologi yang sepintas lalu menjadi religiositas dan budaya hindu.
Pada masa  gerakan arya samaj  ini,  ajaran-ajaranya di pandang  sebagai  ajaran yang  mengenai ketentraman jiwa yang paling tinggi, manusia yang telah sadar akan kesatuannya dengan Allah akan dilepaskan dari segala hawa nafsu dan keinginannya akan aman.
Kepercayaan  aliran ini Selain kitab Weda, Hinduisme juga sangat menghargai hasil kesusasteraan yang termaktub dalam kitab Ramayana dan Mahabarata, dimana keduanya mengungkapkan perihal nilai perjuangan menegakkan kebenaran. Ramayana adalah hasil karya Walmiki yang mengemukakan peranan Rama dan Sinta dalam menghadapi keangkaramurkaan Rahwana; sedangkan Mahabarata hasil tulisan Wiyasa menampilkan peranan Pandawa melawan kejahatan Kurawa.
Dan gerakan modern ini muncul untuk melawan kristenisasi di India dan juga pengaruh Barat lainya.





DAFTAR PUSTAKA:
Achmadi, Asmoro, Filsafat Umum,Pt Grafindo Persada, Jakarta,  2010
Ali, Matius, Filsafat India sebuah pengantar & Buddhisme, Tangerang,  Sanggar Luxor, 2010
Ali, Mukti, Agama-agama Dunia, IAIN Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta, 1988
Aritonang,  Jan s, dan Jonge, De, Apa dan Bagaimana Gereja? Pengantar  sejarah eklesiologi, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2009
Hadiwijono, Harun, Agama Hindu dan Buddha, Jakarta, PT BPK Gunung Mulia, 2010.
Hadiwijono,Harun, Sari Filsafat India, PT BPK Gunung Milia, Jakarta, 1989
http://dharmavada.wordpress.com/2009/11/13/sajak-%E2%80%93-sajak-swami-vivekananda/#more-270
http://www.padmabhuana.com/Evolusjai-Agama-Hindu-di-India-dan-Budayanya.html






Buku "Vedabhasya" (komentar veda) yang isinya membahas  tentang berbagai topik seperti realisasi Tuhan, Vedanta, Kristen dan Islam, perang dan perdamaian, dan India destiny,dengan Ajaran yang menegaskan bahwa dunia ini adalah nyata dan bahwa ada perbedaan kekal dan abadi antara jiwa individu dan Tuhan.        
[3] Dhurorudin Mashad, Muslim di India, (Jakarta, Pecil-324, 2006),h.4
[4] Mendiskreditkan yaitu: mengesampingkan
[5] Mengkonversi yaitu: menggabungkan
[8]Matius  Ali, Filsafat India sebuah pengantar Hinduisme & Buddhisme,( Sanggar Luxor, Tanggerang, 2010),  h. 26-27
[9] Inklusifis yaitu percaya akan kebenaran Agamanya, namun tidak menutup kemungkinan untuk menerimakebenaran dari agama lain yang bersifat terbuka dan tidak fanatik. Lawan dari inklusifisme adalah eklusifisme, yaitu hanya mengakui kebenaran agamanya saja dan menolakkebenaran agama lain yang bersifat tertutup dan fanatik.
[10] De jonge dan  Jan s. aritonang, Apa dan Bagaimana Gereja? Pengantar Sejarah Eklesiologi, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2009), h. 71
[11]Mukti Ali, Agama-agama di Dunia, (IAIN Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta, 1988), h. 89
[12] Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India,( PT BPK Gunung Mulia, Jakarta,  1989), h. 104
Aum atau Om,bagi Arya sanaj dianggap menjadi nama tertinggi dan paling tepat dari Allah.
[14] Konrad kebung, (Filsafat Berfikir Orang Timur {Indonesia, Cina dan India} ), Jakarta. PT.prestasi Pustaka Kasih, h.118
[16]Matius Ali, Filsafat India sebuah pengantarHinduisme&Buddhisme,(Sanggar Luxor,Jakarta 2010), h. 28
[17] Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India, (PT BPK Gunung Mulia, Jakarta,  1989), h. 105

[18] Mukti Ali, Agama-agama di Dunia, (IAIN Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta, 1988) h. 91
[19]ibid, h. 92
[20] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan buddha  Jakarta, PT. BPK Gunung  Mulia, h.552

[22] Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India, PT BPK Gunung Mulia, Jakarta,  1989, h. 106


[23] Mukti Ali, Agama-agama di Dunia, (IAIN Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta, 1988), h. 93
[24]Mukti Ali, Agama-agamadi Dunia,( IAIN Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta,1988), h.90
[25]Mukti Ali, Agama-agamadi Dunia,( IAIN Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta,1988), h. 91
[26] ibid, h. 90

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar