Kamis, 20 Desember 2012

Responding Papers “PERIODESASI SEJARAH AGAMA HINDU” “Zaman Kerajaan Maurya dan Zaman Kerajaan Setelah Maurya”



MAKALAH


MAKALAH
PERIODESASI SEJARAH AGAMA HINDU”
“Zaman Kerajaan Maurya dan Zaman Kerajaan Setelah Maurya”
Diajukan guna memenuhi salah satu syarat tugas mata kuliah Hinduisme Semester 3
Dosen pengajar: Hj. Siti Nadroh, M. Ag.

Oleh:
Ratna Hildya Astuti 1111032100033

logo UIN









UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
FAKULTAS USHULUDDIN
JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
2012

Dinasti Maurya
A. Latar Belakang
          Kerajaan Maurya merupakan salah satu kerajaan yang memegang peranan penting dalam sejarah Asia Selatan. Penemuan dan peninggalannya adalah penemuan penting yang dapat menjelaskan bagaimana peradaban masyarakat India jaman dahulu. Sejarah tentang eksistensi kerajaan ini perlu kita pelajari, karena pengaruhnya pada dunia dan peninggalan-peninggalannya yang masih sangat berguna hingga masa sekarang. Perlu diketahui bahwa peradaban pada masa ini telah dapat disejajarkan dengan peradaban-peradaban seperti Yunani, Mesir, dan Eropa yang telah maju. Pengetahuan tentang Sejarah kerajaan ini dapat menambah pengetahuan kita tentang sejarah dunia, selain itu dapat dikomparasikan dengan kerajaan-kerajaan nasional yang juga berpengaruh pada dunia kala itu.

dinasti.jpegChandragupta Maurya[1]
Pada tahun 305 SM yang berkuasa di kawasan Asia Barat adalah Selecous Nicator (bekas kerajaan Iskandar Zulkarnain)dan yang berkuasa di wilayah magadha adalah Chandragupta pendiri dinasti Maurya.

Karena pasuka selecous kalah perang dengan pasukan Chandragupta maka ia harus menyerahkan daerah kekuasaannya kepada Chandragupta yang meliputi Kabul, Heart, Kandahar, serta Baluchistan dan sebagai gantinya Seleucos menerima 500 ekor gajah. Hubugan kedua penguasa ini semakin erat ketika terjadi hubungan perkawinan antara kedua keluarga tersebut dan secara politik terjadi pertukaran perutusan kenegaraan pada sekitar tahun 302 SM.
Ibukota kerajaan maghanda pada masa Chandragupta terletak di Pathiputra (di patna sekarang) yang terletak di tepian sungai gangga berbentuk jajaran genjang dengan ukuran sekitar 14 km. menurut penuturan Megastenes (Duta yang di kirim oleh seleucos ke pataliputra) raja hidup dalam kemewahan namun tanpa ketenangan dan selalu pergi untuk menghindari maut yang dapat datang kapan saja. Para polisi rahasia maupun mata-mata di sebarkan untuk melindungi sang raja. Konon kekuatan angkatan perangnya mencapai 600.000 orang, yang tergabung dalam tentara gajah, kereta perang kavaltri maupun infantry.
System pemerintahannya membagi kerajaan menjadi 3 propinsi yang masing-masing di kepalai oleh raja muda yang biasanya merupakan anggota keluarga. Ketiga propinsi itu masing-masing berpusat di taksasila,, ujjain dan tosali.penmerintahan sipil bersifat birokratis dan sehari-hari raja di Bantu oleh para Menteriyang menjabat berbagai Fortopolio. System keundang-undangan serta hukum di pelihara menurut tradisi lisan karena tidak di kenal hukum tulisan dan hukum yang di terapkan sangat mengerikan misalnya hukuman mati bagi yang bagi siapa saja yang melakukan kejahatan. Arus perdagangan denagn negara luar sangat ramai terutama dengan tiongkok, yunani, romawi maupun Mesopotamia.mengenai kehidupan keagamaan, masyarakat beragama Hindu memuja Heracles (kreshna/kereta perang arjuna dan sekaligus raja di yadava), Dionysus (dewa siwa), dan Zeus (dewa Indra).
Magastenes menyakan bahawa system kasta merupakan system social yang di pegang kuat dan ia membaginya menjadi tujuh kelompok dalam pelapisan social yaitu: kaum filsuf dan brahmana, kaum petani, kaum pengembala dan pemburu, para tukang, para tentara, pegawai sipil, dan anggota dewan kerajaan.
Gambaran tentang masyarakat kerajaan magandha berakhir dengan berakhirnya riwayat sang raja, chandragupta maurya yang wafat pada tahun 289 SM setelah ia mengundurkan diri dari urusan politik dan menjadi biku agama jina lalu bertapa di savanna begola di sanalah ia di kabarkan wafat karena bunuh diri. Selanjutnya kerajaan ini di pinpin oleh puteranya yang bernama Bindusara yang berhasil melakukan hubungan dipllomatik dengan beberapa Negara asing seperti kerajaan Antiochia di Siria maupun Alexandria di Mesir. Dia juga di juluki Amitraghata atau sang penakluk karena ia berhasil menaklukkan daerah baru dan memasukkannya ke daerah magadha.
B. Kerjaan Maurya India[2]
asoka.jpegKerajaan Maurya didirikan oleh Chandragupta. Kerajaan ini membentang dari Bengali hingga Hindu Kush, dan menyatukan seluruh daratan di India utara.
Chandragupta mengambil alih kekuasaan di Maghada pada 321 SM. Dalam waktu 10 tahun, ia telah menginvasi sebagian besar India utara. Ia seorang negarawan yang baik, dan India menjadi makmur di bawah pengaruhnya. Putranya, Bindusara (293-268 SM), memperluas kerajaan hingga jauh ke bagian selatan India.
Asoka, Sang Pendiri Kerajaan yang Mengenal Kebenaran
Cucu Chandragupta, Asoka (268-233 SM), merupakan penguasa terbesar Maurya. Ia memperluas kerajaan, yang dihuni oleh penduduk dengan lebih dari 60 keyakinan dan bahasa yang berbeda. Tahun 261 SM, pasukan Maurya menghancurkan penduduk Kalingga dalam sebuag peperangan yang banyak mengucurkan darah dan memakan korban sebanyak 200.000 jiwa. Menyaksikan kengerian serta penderitaan tersebut, Asoka merasa sangat terguncangdan ia memutuskan bahwa tidak ada kemenangan militer yang harus dibayar semahal itu. Ia berpindah agama, dari seorang Hindu menjadi pengikut Buddha, dan menanggalkan kekuasaan militer sebagai sebuah kebijakan nasional. Ia melarang persembahan korban hewan maupun manusia dan mempertahankan angkatan daratnya semata-mata sebagai sarana pertahanan. Asoka juga menerapkan hukum moral Buddha mengenai sikap baik dan menjauhi kekerasan serta memberikan perdamaian, kebudayaan, kehormatan, dan kemakmuran bagi rakyatnya. Ia mengembangkan agama Buddha dari sebuah sekte kecil, menyebarkannya sampai ke Indonesia, Asia tengah, dan Mesir. Ia banyak mendirikan tiang batu di seluruh India, menulisinya dengan berbagai panduan moral dan keagamaan bagi rakyatnya. Asoka adalah salah satu raja paling adil dalam sejarah.
Kehidupan Orang Maurya
Asoka berusaha memperbaiki kehidupan rakyatnya. Ia membangun sistem penampungan air, pengairan, dan menggali banyak sumur. Asoka juga membangun tempat peristirahatan dan sepanjang jalan yang menghubungkan berbagai daerah, guna meningkatkan arus perjalanan dan perdagangan serta menyatukan seluruh wilayah kerajaan ke dalam satu sistem. Asoka juga mengerahkan pasukan polisi rahasia untuk membantu mengawasi wilayahnya yang luas. Kendati Asoka berusaha menyatukan negeri, di bawah pemerintahanya, perbedaan antara penganut Hindu, Buddha, dan agama lain tetap tajam. Setelah kematiannya, Kerajaan Maurya mulai terpecah dan India terbagi menjadi kerajaan-kerajaan kecil

C. Pemerintahan Raja-Raja Maurya
Sejak terdengar kabar wafatnya Iskandar di India, penduduk negeri itu langsung bertindak merebut kemerdekaannya dengan dipimpin oleh Chandragupta keturunan Raja Nanda di Magadha. Diantara panglima-panglima Raja Iskandar ada seorang diantara mereka bernama Seleukos yang menguasai daerah bagian Timur yang melingkungi India utara. Dalam tindakannya ia dikalahkan oleh Chandragupta sehingga ia terpaksa berdamai ditahun 305 SM. Perdamaian itu amat besar artinya karena semenjak itu Seleukos mempunyai utusan di Pataliputra bernama Meghastenes. Ia menuliskan pengalamannya dengan rapi dan teliti. Surat-suratnya tersimpan dan menjadi sumber yang amat berharga untuk mengetahui keadaan kerajaan Chandragupta pada masa itu (322-298 SM) dan putranya yaitu Raja Bindusara (298-172 SM). Setelah Chandragupta menjadi Raja ia menulis undang-undang dan dinamai Kautilya-Arthasastra. Kitab itu juga mengandung hal-hal yang berharga untuk sejarah India lama, dan baru ditemukan di Tanjore oleh seorang ahli Hindu Shamasastri ditahun 1906.
Kitab Arthasastra menggambarkan Magadha sebagai suatu negeri yang maju dan mempunyai kebudayaan tinggi serta cara pertahanan yang teratur. Pusat segala kuasa adalah raja, di samping raja ada suatu badan penasihat tinggi. Pembesar negeri menerima gaji yang cukup supaya mereka tidak memeras penduduk. Pertahanan di dalam negeri kuat sekali. Menurut keterangan Megasthenes bala tentara Magadha
terdiri dari 600.000 serdadu berjalan, 30.000 serdadu menunggang kuda, 9000 ekor gajah dan 8000 kereta perang. Berita dari kaum Jaina, raja Chandragupta menarik diri dari pemerintahan dan menjadi pengikut Jaina sebab ia merasa berdosa terhadp rakyatnya sesudah terjadi kelaparan yang hampir 10 tahun lamanya. Ia diganti oleh putranya Bindusara (298-272 SM). Riwayat raja ini tidak begitu terang. Ia diganti oleh putranya yang mendapat nama mashur dalam sejarah India ialah Ashoka Vardhana (272-232 SM). Sebelum naik tahta ia memegang kuasa raja muda di India Barat. Ia mengganti ketika masih remaja. Berlainan dengan nenek dan ayahnya, ia ternyata seorang yang lemah lembut, ramah dan suka berbakti, setia kepada agama dan mengasihi rakyatnya.
Ia terpaksa berperang untuk mengadakan ketentraman di Deccan dan menklukkan Kerajaan Kalingga. Setelah Raja Ashoka mendengar bahwa peperangan itu lebih kurang dari 100 ribu orang Kalingga binasa dan 150 ribu orang ditawan, ia amat sedih dan bersumpah tidak akan mengangkat senjata lagi untuk selama-lamanya. Makin lama tampak kerinduan raja untuk memeluk agama Budha.
Dengan resmi Raja Ashoka meninggalkan Agama Brahma, memeluk Agama Budha. Dari sikap raja ini teranglah bahwa agama Budha mendapat kedudukan sebagi agama kerajaan. Atas titah raja didirikan lebih kurang 48 ribu buah stupa. Untuk anaknya, Puteri Charumati yang sungguh berbakti kepada raja didirikan beberapa wihara bagi kaum wanita.
Sewaktu pemerintahan Ashoka seluruh India hampir dapat disatukan. Sejak itu dari pulau itu tiap tahun beratus-ratus orang berziarah ke daerah Benares. Sejak zaman Ashoka sampai sekarang pulau Zaeland adalah pusat pertahanan agama Budha.
Yang penting dalam sejarah pemerintahan Ashoka dan yang memashurkan namanya sampai sekarang ialah tulisan (prasasti) yang dipahat pada dinding dan tiang batu (zuilen). Sampai sekarang prasasti itu masih terpelihara serta dapat diselidiki dan ditafsirkan isinya oleh ahli-ahli kesusasteraan India.
Kemashuran Ashoka sebagai raja dikarenakan perbuatan sikapnya yang bijaksana, beragama, berpendirian atas kemanusiaan dan mengakui hak kemerdekaan dari semua agama. Ternyata pemerintahan Ashoka merupakan kekuasaan yang mencapai puncak kejayaannya.
Setelah wafatnya Ashoka, kaum Brahma yang merasa kedudukannya amat dibelakangkan mengajak rakyat supaya melawan raja Dasaratha, putra Asoka. Akhirnya keturunan Asoka hanya dapat mempertahankan sebagian dari kerajaan itu. 
Tahun 185 SM raja Maurya Brihadratha dibunuh oleh panglima perang Pushyamitra Sunga yang bertujuan merebut kekuasasan dari raja yang lemah. Keturunan Sunga memerintah 112 tahun lamanya. Mula-mula Raja Kalingga yang ditaklukkan Ashoka merebut kembali kerajaannya sehingga Pushyamitra terpaksa mengadakan perdamaian. Raja-raja Sunga tidak menyukai agama Budha dengan dihidupkan lagi kebiasaan melakukan pengorbanan kuda.
Nyatanya, bahwa perbuatan tersebut merupakan penghinaan agama Budha. Kemudian raja Sunga dibunuh oleh menterinya Vasudeva yang akhirnya menjadi penggantinya (73 SM). Keturunannya bernama Kanva memerintah selama 45 tahun dan diganti oleh raja Andhra yang memerintah hampir 250 tahun lamanya
Zaman Andhra, Parthi dan Kushan (185 SM-225) Kerajaan Andhra didiami oleh Bangsa Dravida letaknya di Teluk Benggala, diantara sungai Godavari dan Krihsna. Sewaktu pemerintahan Ashoka kerjaan itu ditaklukkan dan diharuskan membayar upeti, namun kemudian kerajaan itu bertambah kuat sehingga seorang diantara mereka menduduki Kerajaan Maurya.
Selama raja Andhra memerintah Agama Brahma dan Budha mendapat penghargaan yang sama. Dalam masyarakat negeri Andhra terdapat empat golongan;
1. Raja dan Kepala Daerah
2. Pegawai Negeri
3. Pekerja yang terdidik
4. Pekerja tangan
Kerajaan Andhra terkenal makmur sebab mempunyai perhubungan laut dengan luar negeri. Sampai sekarang belum diketahui bagaimana lenyapnya kerajaan itu. Sisa kerajaan Iskandar masih terdapat di Persia, yaitu Kerajaan Baktria. Penduduknya kebanyakan adalah penggembala ternak. Namun akhirya kerajaan tersebut ditaklukkan oleh Bangsa Parthi yang terus merebut Daerah Sungai Indus di India Barat. Di zaman inilah terjadi perpindahan Bangsa Asia tengah ke India. Raja yang terkenal dari Bangsa Parthi adalah Gondophares yang menurut berita raja inilah yang membawa Agama Kristen ke India.
Pada waktu itu kerajaan Kushan menguasai India Utara, Lembah Gangga dan Indus jadi, belum seluruh kekuasaan Ashoka. Dalam sejarah agama Budha terberita permusyawaratan besar diadakan diantara pemimpin agama Budha atas perintah Kanishka untuk menyelesaikan bermacam-macam perselisihan yang timbul dalam agama dan menyelidiki kitab-kitab mengenai ilmu agama dan filsafat agar dapat disatukan. Semua keputusan yang diambil ditulis pada tembaga dan disimpan dalam stupa dekat kota Srinagar.
Raja Kanishka memajukan kerajaan Kushan dengan memajukan budaya dalam sejarah India dinamakan masa Ghandara. Di negeri itu terdapat barang-barang kuno. Barang-barang itu kebanyakan terdiri dari lukisan pada dinding batu yang dipahat. Diantara keturunan Kanishka ialah Vasudeva (182-220). Sewaktu pemerintahannya sudah tampak tanda-tanda keruntuhan. Mula-mula adanya penyakit Pest yang menular dari Babylon ke sebelah barat sampai Eropa hingga ke India yang mendatangkan maut berjuta-juta orang. Kejadian kedua kuasa Kerajaan Persia yang dipimpin Ardhasir makin mengencang. Kemudian kerajaan Kushan pecah belah dan lenyap dari sejarah. Dengan runtuhnya kerajaan Kushan dan Andhra sampai pada zaman Gupta.
Zaman Raja Gupta (320-656) atau Zaman Emas India Pada abad ke empat mulailah kerajaan baru di India yaitu Kerajaan Gupta. Kerajaan ini hampir menyamai kerajaan Chandragupta dan Maurya. Raja yang pertama ialah Chandragupta I, ia memerintah dari tahun 320-330 dan diganti oleh putranya Samudragupta yang memerintah antara tahun 330-375.
Samudragupta terhitung sebagai raja yang termashur di India. Ia setia pada agama Hindu. Setelah ia dinobatkan ia mulai memerangi kerajaan yang terletak di sekitar kerajaannya dan menaklukkan daerah bernama Hindustan. Ia juga menaklukkan Kerajaan Kalingga dan Pallava di daerah Madras.
Di bawah pemerintahan Chandragupta II Vikramaditya (375-415) kerajaan Gupta bertambah luas dan mempunyai pelabuhan-pelabuhan serta kapal untuk memudahkan perhubungan dengan negeri Arab dan Mesir. Menurut berita pendeta Budha Tiongkok yaitu Huen-Tsang mengatakan bahwa ia ada di India tahun 650, hanya melihat bekas kota itu saja.
Sewaktu pemerintahan Chandragupta II Vikramaditya Kerajaan Gupta sampai pada puncak kebesarannya. Setelah raja itu wafat tahun 415 Kerajaan Gupta lambat laun mundur terutama karena desakan bangsa Huna dari utara dan sikap raja penggantinya yang tidak cakap.
Kerajaan Gupta pun pecah belah. Di jaman Gupta kesusastraan Hindu mendapat perhatian dari pihak raja. Masa itu dipandang sebagai zaman emas dalam perkembangan kesusastraan Hindu. Pujangga yang termashur pada waktu itu adalah Kalidasa. Tadi disebutkan setelah wafatnya Chandragupta II ancaman bangsa Huna makin menekan India, bangsa dari Asia Tengah itu pun membanjiri India. Bukan hanya India saja yang diserang namun Eropa juga.
Zaman Raja Harsha (606-647) Dalam sejarah India sebelum zaman Islam terdapat pemerintahan Harsha, raja Hindu. Dua buah sumber keterangan dapat disebutkan yaitu kitab yang ditulis oleh Hiuen Tsang tatkala ia mengunjungi India di tahun 630-644 ketika raja Harsha pada puncak kuasanya dan kitab Harsha-carita yang menjelaskan peristiwa yang terjadi selama pemerintahan Raja Harsha yang ditulis pujangga keraton bernama Bana.
Di tahun 604 ayahnya mengirim saudaranya yang sulung Rajavardhana dengan tentara yang kuat untuk memerangi bangsa Huna di sebelah utara. Tidak berapa lama ayahnya wafat dan diganti oleh putra mahkota, meskipun ada sebagian pembesar yang lebih suka pada Harsha tetapi ia menolak.
Raja yang baru terpaksa meninggalkan kota tempatnya untuk membalas perbuatan yang membunuh iparnya dan menganiaya adik perempuannya. Raja Malwa yang dicari itu dapat dikalahkan tetapi tidak lama kemudian raja sendiri dibunuh oleh beberapa penjahat.
Selama satu tahun pemerintahan kacau karena Harsha menolak permintaan rakyat mengganti saudaranya. Dan pada tahun 606 ia menerima permohonan itu akan tetapi sebagai pemangku. Pekerjaan pertamanya ia mencari adik perempuannya ke pegunungan.
Zaman Kerajaan-Kerajaan di India utara[3], Deccan dan India Selatan. Di India tengah dan selatan kebudayaan Hindu terus berkembang, setelah India utara dan Hindustan dikuasai oleh raja-raja Islam yang datang dari Persia dan Asia tengah. Diantara kerajaan-kerajaan di India tengah yang amat kuat ialah kerajaan Chalukya sampai tahun 1190. Kerajaan kekuasaannya besar pada abad ke delapan ialah Rashtrakuta. Rajanya yang terkenal, Krishna I mendirikan candi Kailasa, dipahat si dalam gunung batu dekat Ellora, di daerah Hydrabad sekarang.
Agama Budha pada zaman itu mengalami kemunduran, sedangkan agama Hindu makin maju. Seperti yang telah diuraikan di atas penduduk Deccan (bangsa Dravida) sudah memiliki kebudayaan dan agamanya sendiri sebelum bangsa Arya datang dari utara. Agama Budha yang disebarkan oleh Ashoka juga berkembang di daerah itu. Antara percampuran agama Brahma, Budha dan kepercayaan asli terbentuklah agama yang satu, yaitu agama Hindu. Hindu mengandung kebiasaan-kebiasaan, adat-adat dan aturan-aturan yang berakar pada kepercayaan asli dari masa sebelum kedatangan bangsaArya. India selatan adalah tanah yang subur terletak di daerah beriklim musim seperti Indonesia.
Sejak zaman purbakala India selatan menjadi impian raja-raja di sebelah utara yang hendak menaklukkan daerah itu. Kemudian mulai dari abad ke-4 sampai abad ke-8 terdengar kemashuran Kerajaan Pallava yang berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan yang tiga-tiganya adalah Pandya, Chola, dan Kerala atau Chera, dan juga memerangi kerajaan Chalukya di India tengah. Asal-usul tentang bangsa Pallava hingga sekarang belum mendapat keterangan yang jelas. Beberapa ahli berpendapat bahwa nama Pallava berhubungan dengan nama Pahlavi di Persia, sehingga kemungkinan mereka berasal dari Persia.
Menurut penyelidikan terakhir, Pallava tidak lain berasal dari nama suatu suku yang terkenal sebagai pemimpin suku-suku yang jauh dari pusat kerajaan yang menguasai mereka. Pada abad ke -4 pusat pemerintahan kerajaan Pallava berada di dekat kota Madras sekarang, yaitu Kanchi. Raja-raja yng terkenal adalah Mahendravarman (600-625) dan Narashinhavarman (625-645), keduanya mendirikan candi-candi tempat memuja Dewa Wisnu dan Dewa Syiwa.
Kekuasaan raja-raja Pallava berkurang karena terus menerus berperang dengan Chalukya.
Dengan lemahnya kekuatan Kerajaan pallava mengakibatkan bangkitnya kerajaan Chola. Pada pemerintahan rajarajadeva (985) dan anaknya Rajendra Choladeva I (1018), kerajaan Chola menguasai Sailan,Pegu,Martaban di Birma dan Kepulauan Andaman. Kerajaan‑kerajaan tersebut berhubungan dengan sejarah zaman Islam di India utara dan Hindustan.
Dari semua itu, nampak jelas bahwa Raja Asoka adalah raja yang bijaksana, beragama, berpendirian atas kemanusiaan dan menghormati semua agama. Banyak cerita mengenai ketenaran Raja Asoka, kepercayaan tentang kehidupannya yang istimewa masih terdengar sampai sekarang, terutama di Sailan, pusat ajaran Buddha, beliau dihormati sebagai seorang manusia yang merupakan  penjelmaan Bodhisatta.

Kerajaan Maurya sangat maju dan mencapai puncaknya di bawah pemerintahan Raja Asoka. Setelah raja wafat, kaum Brahmana yang merasa tidak mendapat kedudukan tinggi di masyarakat yang mengikuti ajaran Buddha mengajak rakyat untuk melawan Raja Dasaratha, putera Raja Asoka. Kerajaan Maurya mulai mundur dan terpecah - pecah. Tindakan tersebut tidak menghormati ajaran Buddha. Hal itu akan muncul lagi lima abad kemudian, yakni di zaman Samudragupta.[4]

Raja Sunga menjadi tidak berkuasa lagi di bawah pengaruh menterinya, Vasudeva, yang akhirnya membunuh raja dan menggantikannya (73 SM). Keturunannya bernama Raja Kanva. Raja Kanva memerintah selama 45 tahun saja dan digantikan oleh Raja Andhra, yang mempunyai 30 turunan, memerintah hampir 250 tahun lamanya, sampai tahun 225 Masehi
D. Masa Asoka[5]

Dalam tahun 273 SM Asoka menerima mahkota kerajaan Maghanda dari ayahnya, Bindusara. Pada tahun 261 SM Asoka bertekat untuk membulatkan kerajaan dengan jalan menaklukkan kalingga atau Orissa yang terletak di teluk benggala dan merupakan Negara merdeka yang belum di kuasai oleh Negara lain. Dan dalam pertempuran perebutan wialyah itu, menurut yang tercatat pada pertilisan maupun batu karang yang di keluarkan oleh Asoka, di katakana bahwa 125 orang di tawan, 100.000 orang mati terbunuh dan berlipat ganda dari semua itu musnah. Tindakan yang di lakukan asoka tersebut telah membuat proses pemersatuan India itu meruapkan ambisi dari sang raja yang ingin berkuasa dengan segala kekejaman. Hingga pada suatu saat sang raja terpengaruh oleh kebijaksanaan seorang pendeta agama budha yang bernama Upagupta sehingga raja berubah menjadi orang bijak serta belas kasihan terhadap sesama. Asoka memasuki salah satu aliran budhadan menjadi seorang biku dan bertekat mengembangkan ajaran budha ke seluruh penjuru daerah kekuasaannya.
Pada masa pemerintahan asoka sebuah muktamar besar agama budha di selenggarakan di pataliputra yang di laksanakan selama sembilan bulan dan di dalam sejarah di kenal sebagai muktamar yang ke-3 pada tahun 244 SM. Asoka adalah raja pertama di dunia yang mengutuk perperangan sebagai alat politik yang kejam dan ia pun memasuki biara da hidup sebagai petapa (tahun 233 SM). Raja meninggal sebagai petapa pada tahun 232 SM. Masa pemerintahannya hamper tak ada bandingannya dalam mutu sepanjang sejarah India. Pemerintahannya selama 40 tahun tela menjadikan budha sebagai Mazhab setempat dan sebagai agama resmi Negara. Tiadak ada informasi yang jelas tentang siapa penggantinya namun dinasti maurya berakhir pada tahun 185 SM dan di gantikan oleh kemunculan dinasti baru yaitu dinasti Sungha.
.



Daftar Pustaka
Ali, Mukti. Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press. 1988
http://rubik-riza.blogspot.com/2011/11/makalah-dinasti-maurya.htmlhttp://sejarahperadabandanbudayadunia.blogspot.com/2012/06/kerajaan-maurya-india.html
T.S.G, Mulya. India. Sedjarah dan Pergerakan Kebangsaan. Jakarta : Balai Pustaka, 1952.

http://www.buddhakkhetta.com/User/Kat1/Sub11/Art43/baca.php?com=1&id=143





[2] http://sejarahperadabandanbudayadunia.blogspot.com/2012/06/kerajaan-maurya-india.html

[3] T.S.G, Mulya. India. Sedjarah dan Pergerakan Kebangsaan. Jakarta : Balai Pustaka, 1952.

[4] http://www.buddhakkhetta.com/User/Kat1/Sub11/Art43/baca.php?com=1&id=143

Diajukan guna memenuhi salah satu syarat tugas mata kuliah Hinduisme Semester 3
Dosen pengajar: Hj. Siti Nadroh, M. Ag.

Oleh:
Ratna Hildya Astuti 1111032100033

logo UIN









UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
FAKULTAS USHULUDDIN
JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
2012

Dinasti Maurya
A. Latar Belakang
          Kerajaan Maurya merupakan salah satu kerajaan yang memegang peranan penting dalam sejarah Asia Selatan. Penemuan dan peninggalannya adalah penemuan penting yang dapat menjelaskan bagaimana peradaban masyarakat India jaman dahulu. Sejarah tentang eksistensi kerajaan ini perlu kita pelajari, karena pengaruhnya pada dunia dan peninggalan-peninggalannya yang masih sangat berguna hingga masa sekarang. Perlu diketahui bahwa peradaban pada masa ini telah dapat disejajarkan dengan peradaban-peradaban seperti Yunani, Mesir, dan Eropa yang telah maju. Pengetahuan tentang Sejarah kerajaan ini dapat menambah pengetahuan kita tentang sejarah dunia, selain itu dapat dikomparasikan dengan kerajaan-kerajaan nasional yang juga berpengaruh pada dunia kala itu.
dinasti.jpegChandragupta Maurya[1]
Pada tahun 305 SM yang berkuasa di kawasan Asia Barat adalah Selecous Nicator (bekas kerajaan Iskandar Zulkarnain)dan yang berkuasa di wilayah magadha adalah Chandragupta pendiri dinasti Maurya.

Karena pasuka selecous kalah perang dengan pasukan Chandragupta maka ia harus menyerahkan daerah kekuasaannya kepada Chandragupta yang meliputi Kabul, Heart, Kandahar, serta Baluchistan dan sebagai gantinya Seleucos menerima 500 ekor gajah. Hubugan kedua penguasa ini semakin erat ketika terjadi hubungan perkawinan antara kedua keluarga tersebut dan secara politik terjadi pertukaran perutusan kenegaraan pada sekitar tahun 302 SM.
Ibukota kerajaan maghanda pada masa Chandragupta terletak di Pathiputra (di patna sekarang) yang terletak di tepian sungai gangga berbentuk jajaran genjang dengan ukuran sekitar 14 km. menurut penuturan Megastenes (Duta yang di kirim oleh seleucos ke pataliputra) raja hidup dalam kemewahan namun tanpa ketenangan dan selalu pergi untuk menghindari maut yang dapat datang kapan saja. Para polisi rahasia maupun mata-mata di sebarkan untuk melindungi sang raja. Konon kekuatan angkatan perangnya mencapai 600.000 orang, yang tergabung dalam tentara gajah, kereta perang kavaltri maupun infantry.
System pemerintahannya membagi kerajaan menjadi 3 propinsi yang masing-masing di kepalai oleh raja muda yang biasanya merupakan anggota keluarga. Ketiga propinsi itu masing-masing berpusat di taksasila,, ujjain dan tosali.penmerintahan sipil bersifat birokratis dan sehari-hari raja di Bantu oleh para Menteriyang menjabat berbagai Fortopolio. System keundang-undangan serta hukum di pelihara menurut tradisi lisan karena tidak di kenal hukum tulisan dan hukum yang di terapkan sangat mengerikan misalnya hukuman mati bagi yang bagi siapa saja yang melakukan kejahatan. Arus perdagangan denagn negara luar sangat ramai terutama dengan tiongkok, yunani, romawi maupun Mesopotamia.mengenai kehidupan keagamaan, masyarakat beragama Hindu memuja Heracles (kreshna/kereta perang arjuna dan sekaligus raja di yadava), Dionysus (dewa siwa), dan Zeus (dewa Indra).
Magastenes menyakan bahawa system kasta merupakan system social yang di pegang kuat dan ia membaginya menjadi tujuh kelompok dalam pelapisan social yaitu: kaum filsuf dan brahmana, kaum petani, kaum pengembala dan pemburu, para tukang, para tentara, pegawai sipil, dan anggota dewan kerajaan.
Gambaran tentang masyarakat kerajaan magandha berakhir dengan berakhirnya riwayat sang raja, chandragupta maurya yang wafat pada tahun 289 SM setelah ia mengundurkan diri dari urusan politik dan menjadi biku agama jina lalu bertapa di savanna begola di sanalah ia di kabarkan wafat karena bunuh diri. Selanjutnya kerajaan ini di pinpin oleh puteranya yang bernama Bindusara yang berhasil melakukan hubungan dipllomatik dengan beberapa Negara asing seperti kerajaan Antiochia di Siria maupun Alexandria di Mesir. Dia juga di juluki Amitraghata atau sang penakluk karena ia berhasil menaklukkan daerah baru dan memasukkannya ke daerah magadha.
B. Kerjaan Maurya India[2]
asoka.jpegKerajaan Maurya didirikan oleh Chandragupta. Kerajaan ini membentang dari Bengali hingga Hindu Kush, dan menyatukan seluruh daratan di India utara.
Chandragupta mengambil alih kekuasaan di Maghada pada 321 SM. Dalam waktu 10 tahun, ia telah menginvasi sebagian besar India utara. Ia seorang negarawan yang baik, dan India menjadi makmur di bawah pengaruhnya. Putranya, Bindusara (293-268 SM), memperluas kerajaan hingga jauh ke bagian selatan India.
Asoka, Sang Pendiri Kerajaan yang Mengenal Kebenaran
Cucu Chandragupta, Asoka (268-233 SM), merupakan penguasa terbesar Maurya. Ia memperluas kerajaan, yang dihuni oleh penduduk dengan lebih dari 60 keyakinan dan bahasa yang berbeda. Tahun 261 SM, pasukan Maurya menghancurkan penduduk Kalingga dalam sebuag peperangan yang banyak mengucurkan darah dan memakan korban sebanyak 200.000 jiwa. Menyaksikan kengerian serta penderitaan tersebut, Asoka merasa sangat terguncangdan ia memutuskan bahwa tidak ada kemenangan militer yang harus dibayar semahal itu. Ia berpindah agama, dari seorang Hindu menjadi pengikut Buddha, dan menanggalkan kekuasaan militer sebagai sebuah kebijakan nasional. Ia melarang persembahan korban hewan maupun manusia dan mempertahankan angkatan daratnya semata-mata sebagai sarana pertahanan. Asoka juga menerapkan hukum moral Buddha mengenai sikap baik dan menjauhi kekerasan serta memberikan perdamaian, kebudayaan, kehormatan, dan kemakmuran bagi rakyatnya. Ia mengembangkan agama Buddha dari sebuah sekte kecil, menyebarkannya sampai ke Indonesia, Asia tengah, dan Mesir. Ia banyak mendirikan tiang batu di seluruh India, menulisinya dengan berbagai panduan moral dan keagamaan bagi rakyatnya. Asoka adalah salah satu raja paling adil dalam sejarah.
Kehidupan Orang Maurya
Asoka berusaha memperbaiki kehidupan rakyatnya. Ia membangun sistem penampungan air, pengairan, dan menggali banyak sumur. Asoka juga membangun tempat peristirahatan dan sepanjang jalan yang menghubungkan berbagai daerah, guna meningkatkan arus perjalanan dan perdagangan serta menyatukan seluruh wilayah kerajaan ke dalam satu sistem. Asoka juga mengerahkan pasukan polisi rahasia untuk membantu mengawasi wilayahnya yang luas. Kendati Asoka berusaha menyatukan negeri, di bawah pemerintahanya, perbedaan antara penganut Hindu, Buddha, dan agama lain tetap tajam. Setelah kematiannya, Kerajaan Maurya mulai terpecah dan India terbagi menjadi kerajaan-kerajaan kecil

C. Pemerintahan Raja-Raja Maurya
Sejak terdengar kabar wafatnya Iskandar di India, penduduk negeri itu langsung bertindak merebut kemerdekaannya dengan dipimpin oleh Chandragupta keturunan Raja Nanda di Magadha. Diantara panglima-panglima Raja Iskandar ada seorang diantara mereka bernama Seleukos yang menguasai daerah bagian Timur yang melingkungi India utara. Dalam tindakannya ia dikalahkan oleh Chandragupta sehingga ia terpaksa berdamai ditahun 305 SM. Perdamaian itu amat besar artinya karena semenjak itu Seleukos mempunyai utusan di Pataliputra bernama Meghastenes. Ia menuliskan pengalamannya dengan rapi dan teliti. Surat-suratnya tersimpan dan menjadi sumber yang amat berharga untuk mengetahui keadaan kerajaan Chandragupta pada masa itu (322-298 SM) dan putranya yaitu Raja Bindusara (298-172 SM). Setelah Chandragupta menjadi Raja ia menulis undang-undang dan dinamai Kautilya-Arthasastra. Kitab itu juga mengandung hal-hal yang berharga untuk sejarah India lama, dan baru ditemukan di Tanjore oleh seorang ahli Hindu Shamasastri ditahun 1906.
Kitab Arthasastra menggambarkan Magadha sebagai suatu negeri yang maju dan mempunyai kebudayaan tinggi serta cara pertahanan yang teratur. Pusat segala kuasa adalah raja, di samping raja ada suatu badan penasihat tinggi. Pembesar negeri menerima gaji yang cukup supaya mereka tidak memeras penduduk. Pertahanan di dalam negeri kuat sekali. Menurut keterangan Megasthenes bala tentara Magadha
terdiri dari 600.000 serdadu berjalan, 30.000 serdadu menunggang kuda, 9000 ekor gajah dan 8000 kereta perang. Berita dari kaum Jaina, raja Chandragupta menarik diri dari pemerintahan dan menjadi pengikut Jaina sebab ia merasa berdosa terhadp rakyatnya sesudah terjadi kelaparan yang hampir 10 tahun lamanya. Ia diganti oleh putranya Bindusara (298-272 SM). Riwayat raja ini tidak begitu terang. Ia diganti oleh putranya yang mendapat nama mashur dalam sejarah India ialah Ashoka Vardhana (272-232 SM). Sebelum naik tahta ia memegang kuasa raja muda di India Barat. Ia mengganti ketika masih remaja. Berlainan dengan nenek dan ayahnya, ia ternyata seorang yang lemah lembut, ramah dan suka berbakti, setia kepada agama dan mengasihi rakyatnya.
Ia terpaksa berperang untuk mengadakan ketentraman di Deccan dan menklukkan Kerajaan Kalingga. Setelah Raja Ashoka mendengar bahwa peperangan itu lebih kurang dari 100 ribu orang Kalingga binasa dan 150 ribu orang ditawan, ia amat sedih dan bersumpah tidak akan mengangkat senjata lagi untuk selama-lamanya. Makin lama tampak kerinduan raja untuk memeluk agama Budha.
Dengan resmi Raja Ashoka meninggalkan Agama Brahma, memeluk Agama Budha. Dari sikap raja ini teranglah bahwa agama Budha mendapat kedudukan sebagi agama kerajaan. Atas titah raja didirikan lebih kurang 48 ribu buah stupa. Untuk anaknya, Puteri Charumati yang sungguh berbakti kepada raja didirikan beberapa wihara bagi kaum wanita.
Sewaktu pemerintahan Ashoka seluruh India hampir dapat disatukan. Sejak itu dari pulau itu tiap tahun beratus-ratus orang berziarah ke daerah Benares. Sejak zaman Ashoka sampai sekarang pulau Zaeland adalah pusat pertahanan agama Budha.
Yang penting dalam sejarah pemerintahan Ashoka dan yang memashurkan namanya sampai sekarang ialah tulisan (prasasti) yang dipahat pada dinding dan tiang batu (zuilen). Sampai sekarang prasasti itu masih terpelihara serta dapat diselidiki dan ditafsirkan isinya oleh ahli-ahli kesusasteraan India.
Kemashuran Ashoka sebagai raja dikarenakan perbuatan sikapnya yang bijaksana, beragama, berpendirian atas kemanusiaan dan mengakui hak kemerdekaan dari semua agama. Ternyata pemerintahan Ashoka merupakan kekuasaan yang mencapai puncak kejayaannya.
Setelah wafatnya Ashoka, kaum Brahma yang merasa kedudukannya amat dibelakangkan mengajak rakyat supaya melawan raja Dasaratha, putra Asoka. Akhirnya keturunan Asoka hanya dapat mempertahankan sebagian dari kerajaan itu. 
Tahun 185 SM raja Maurya Brihadratha dibunuh oleh panglima perang Pushyamitra Sunga yang bertujuan merebut kekuasasan dari raja yang lemah. Keturunan Sunga memerintah 112 tahun lamanya. Mula-mula Raja Kalingga yang ditaklukkan Ashoka merebut kembali kerajaannya sehingga Pushyamitra terpaksa mengadakan perdamaian. Raja-raja Sunga tidak menyukai agama Budha dengan dihidupkan lagi kebiasaan melakukan pengorbanan kuda.
Nyatanya, bahwa perbuatan tersebut merupakan penghinaan agama Budha. Kemudian raja Sunga dibunuh oleh menterinya Vasudeva yang akhirnya menjadi penggantinya (73 SM). Keturunannya bernama Kanva memerintah selama 45 tahun dan diganti oleh raja Andhra yang memerintah hampir 250 tahun lamanya
Zaman Andhra, Parthi dan Kushan (185 SM-225) Kerajaan Andhra didiami oleh Bangsa Dravida letaknya di Teluk Benggala, diantara sungai Godavari dan Krihsna. Sewaktu pemerintahan Ashoka kerjaan itu ditaklukkan dan diharuskan membayar upeti, namun kemudian kerajaan itu bertambah kuat sehingga seorang diantara mereka menduduki Kerajaan Maurya.
Selama raja Andhra memerintah Agama Brahma dan Budha mendapat penghargaan yang sama. Dalam masyarakat negeri Andhra terdapat empat golongan;
1. Raja dan Kepala Daerah
2. Pegawai Negeri
3. Pekerja yang terdidik
4. Pekerja tangan
Kerajaan Andhra terkenal makmur sebab mempunyai perhubungan laut dengan luar negeri. Sampai sekarang belum diketahui bagaimana lenyapnya kerajaan itu. Sisa kerajaan Iskandar masih terdapat di Persia, yaitu Kerajaan Baktria. Penduduknya kebanyakan adalah penggembala ternak. Namun akhirya kerajaan tersebut ditaklukkan oleh Bangsa Parthi yang terus merebut Daerah Sungai Indus di India Barat. Di zaman inilah terjadi perpindahan Bangsa Asia tengah ke India. Raja yang terkenal dari Bangsa Parthi adalah Gondophares yang menurut berita raja inilah yang membawa Agama Kristen ke India.
Pada waktu itu kerajaan Kushan menguasai India Utara, Lembah Gangga dan Indus jadi, belum seluruh kekuasaan Ashoka. Dalam sejarah agama Budha terberita permusyawaratan besar diadakan diantara pemimpin agama Budha atas perintah Kanishka untuk menyelesaikan bermacam-macam perselisihan yang timbul dalam agama dan menyelidiki kitab-kitab mengenai ilmu agama dan filsafat agar dapat disatukan. Semua keputusan yang diambil ditulis pada tembaga dan disimpan dalam stupa dekat kota Srinagar.
Raja Kanishka memajukan kerajaan Kushan dengan memajukan budaya dalam sejarah India dinamakan masa Ghandara. Di negeri itu terdapat barang-barang kuno. Barang-barang itu kebanyakan terdiri dari lukisan pada dinding batu yang dipahat. Diantara keturunan Kanishka ialah Vasudeva (182-220). Sewaktu pemerintahannya sudah tampak tanda-tanda keruntuhan. Mula-mula adanya penyakit Pest yang menular dari Babylon ke sebelah barat sampai Eropa hingga ke India yang mendatangkan maut berjuta-juta orang. Kejadian kedua kuasa Kerajaan Persia yang dipimpin Ardhasir makin mengencang. Kemudian kerajaan Kushan pecah belah dan lenyap dari sejarah. Dengan runtuhnya kerajaan Kushan dan Andhra sampai pada zaman Gupta.
Zaman Raja Gupta (320-656) atau Zaman Emas India Pada abad ke empat mulailah kerajaan baru di India yaitu Kerajaan Gupta. Kerajaan ini hampir menyamai kerajaan Chandragupta dan Maurya. Raja yang pertama ialah Chandragupta I, ia memerintah dari tahun 320-330 dan diganti oleh putranya Samudragupta yang memerintah antara tahun 330-375.
Samudragupta terhitung sebagai raja yang termashur di India. Ia setia pada agama Hindu. Setelah ia dinobatkan ia mulai memerangi kerajaan yang terletak di sekitar kerajaannya dan menaklukkan daerah bernama Hindustan. Ia juga menaklukkan Kerajaan Kalingga dan Pallava di daerah Madras.
Di bawah pemerintahan Chandragupta II Vikramaditya (375-415) kerajaan Gupta bertambah luas dan mempunyai pelabuhan-pelabuhan serta kapal untuk memudahkan perhubungan dengan negeri Arab dan Mesir. Menurut berita pendeta Budha Tiongkok yaitu Huen-Tsang mengatakan bahwa ia ada di India tahun 650, hanya melihat bekas kota itu saja.
Sewaktu pemerintahan Chandragupta II Vikramaditya Kerajaan Gupta sampai pada puncak kebesarannya. Setelah raja itu wafat tahun 415 Kerajaan Gupta lambat laun mundur terutama karena desakan bangsa Huna dari utara dan sikap raja penggantinya yang tidak cakap.
Kerajaan Gupta pun pecah belah. Di jaman Gupta kesusastraan Hindu mendapat perhatian dari pihak raja. Masa itu dipandang sebagai zaman emas dalam perkembangan kesusastraan Hindu. Pujangga yang termashur pada waktu itu adalah Kalidasa. Tadi disebutkan setelah wafatnya Chandragupta II ancaman bangsa Huna makin menekan India, bangsa dari Asia Tengah itu pun membanjiri India. Bukan hanya India saja yang diserang namun Eropa juga.
Zaman Raja Harsha (606-647) Dalam sejarah India sebelum zaman Islam terdapat pemerintahan Harsha, raja Hindu. Dua buah sumber keterangan dapat disebutkan yaitu kitab yang ditulis oleh Hiuen Tsang tatkala ia mengunjungi India di tahun 630-644 ketika raja Harsha pada puncak kuasanya dan kitab Harsha-carita yang menjelaskan peristiwa yang terjadi selama pemerintahan Raja Harsha yang ditulis pujangga keraton bernama Bana.
Di tahun 604 ayahnya mengirim saudaranya yang sulung Rajavardhana dengan tentara yang kuat untuk memerangi bangsa Huna di sebelah utara. Tidak berapa lama ayahnya wafat dan diganti oleh putra mahkota, meskipun ada sebagian pembesar yang lebih suka pada Harsha tetapi ia menolak.
Raja yang baru terpaksa meninggalkan kota tempatnya untuk membalas perbuatan yang membunuh iparnya dan menganiaya adik perempuannya. Raja Malwa yang dicari itu dapat dikalahkan tetapi tidak lama kemudian raja sendiri dibunuh oleh beberapa penjahat.
Selama satu tahun pemerintahan kacau karena Harsha menolak permintaan rakyat mengganti saudaranya. Dan pada tahun 606 ia menerima permohonan itu akan tetapi sebagai pemangku. Pekerjaan pertamanya ia mencari adik perempuannya ke pegunungan.
Zaman Kerajaan-Kerajaan di India utara[3], Deccan dan India Selatan. Di India tengah dan selatan kebudayaan Hindu terus berkembang, setelah India utara dan Hindustan dikuasai oleh raja-raja Islam yang datang dari Persia dan Asia tengah. Diantara kerajaan-kerajaan di India tengah yang amat kuat ialah kerajaan Chalukya sampai tahun 1190. Kerajaan kekuasaannya besar pada abad ke delapan ialah Rashtrakuta. Rajanya yang terkenal, Krishna I mendirikan candi Kailasa, dipahat si dalam gunung batu dekat Ellora, di daerah Hydrabad sekarang.
Agama Budha pada zaman itu mengalami kemunduran, sedangkan agama Hindu makin maju. Seperti yang telah diuraikan di atas penduduk Deccan (bangsa Dravida) sudah memiliki kebudayaan dan agamanya sendiri sebelum bangsa Arya datang dari utara. Agama Budha yang disebarkan oleh Ashoka juga berkembang di daerah itu. Antara percampuran agama Brahma, Budha dan kepercayaan asli terbentuklah agama yang satu, yaitu agama Hindu. Hindu mengandung kebiasaan-kebiasaan, adat-adat dan aturan-aturan yang berakar pada kepercayaan asli dari masa sebelum kedatangan bangsaArya. India selatan adalah tanah yang subur terletak di daerah beriklim musim seperti Indonesia.
Sejak zaman purbakala India selatan menjadi impian raja-raja di sebelah utara yang hendak menaklukkan daerah itu. Kemudian mulai dari abad ke-4 sampai abad ke-8 terdengar kemashuran Kerajaan Pallava yang berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan yang tiga-tiganya adalah Pandya, Chola, dan Kerala atau Chera, dan juga memerangi kerajaan Chalukya di India tengah. Asal-usul tentang bangsa Pallava hingga sekarang belum mendapat keterangan yang jelas. Beberapa ahli berpendapat bahwa nama Pallava berhubungan dengan nama Pahlavi di Persia, sehingga kemungkinan mereka berasal dari Persia.
Menurut penyelidikan terakhir, Pallava tidak lain berasal dari nama suatu suku yang terkenal sebagai pemimpin suku-suku yang jauh dari pusat kerajaan yang menguasai mereka. Pada abad ke -4 pusat pemerintahan kerajaan Pallava berada di dekat kota Madras sekarang, yaitu Kanchi. Raja-raja yng terkenal adalah Mahendravarman (600-625) dan Narashinhavarman (625-645), keduanya mendirikan candi-candi tempat memuja Dewa Wisnu dan Dewa Syiwa.
Kekuasaan raja-raja Pallava berkurang karena terus menerus berperang dengan Chalukya.
Dengan lemahnya kekuatan Kerajaan pallava mengakibatkan bangkitnya kerajaan Chola. Pada pemerintahan rajarajadeva (985) dan anaknya Rajendra Choladeva I (1018), kerajaan Chola menguasai Sailan,Pegu,Martaban di Birma dan Kepulauan Andaman. Kerajaan‑kerajaan tersebut berhubungan dengan sejarah zaman Islam di India utara dan Hindustan.
Dari semua itu, nampak jelas bahwa Raja Asoka adalah raja yang bijaksana, beragama, berpendirian atas kemanusiaan dan menghormati semua agama. Banyak cerita mengenai ketenaran Raja Asoka, kepercayaan tentang kehidupannya yang istimewa masih terdengar sampai sekarang, terutama di Sailan, pusat ajaran Buddha, beliau dihormati sebagai seorang manusia yang merupakan  penjelmaan Bodhisatta.

Kerajaan Maurya sangat maju dan mencapai puncaknya di bawah pemerintahan Raja Asoka. Setelah raja wafat, kaum Brahmana yang merasa tidak mendapat kedudukan tinggi di masyarakat yang mengikuti ajaran Buddha mengajak rakyat untuk melawan Raja Dasaratha, putera Raja Asoka. Kerajaan Maurya mulai mundur dan terpecah - pecah. Tindakan tersebut tidak menghormati ajaran Buddha. Hal itu akan muncul lagi lima abad kemudian, yakni di zaman Samudragupta.[4]

Raja Sunga menjadi tidak berkuasa lagi di bawah pengaruh menterinya, Vasudeva, yang akhirnya membunuh raja dan menggantikannya (73 SM). Keturunannya bernama Raja Kanva. Raja Kanva memerintah selama 45 tahun saja dan digantikan oleh Raja Andhra, yang mempunyai 30 turunan, memerintah hampir 250 tahun lamanya, sampai tahun 225 Masehi
D. Masa Asoka[5]

Dalam tahun 273 SM Asoka menerima mahkota kerajaan Maghanda dari ayahnya, Bindusara. Pada tahun 261 SM Asoka bertekat untuk membulatkan kerajaan dengan jalan menaklukkan kalingga atau Orissa yang terletak di teluk benggala dan merupakan Negara merdeka yang belum di kuasai oleh Negara lain. Dan dalam pertempuran perebutan wialyah itu, menurut yang tercatat pada pertilisan maupun batu karang yang di keluarkan oleh Asoka, di katakana bahwa 125 orang di tawan, 100.000 orang mati terbunuh dan berlipat ganda dari semua itu musnah. Tindakan yang di lakukan asoka tersebut telah membuat proses pemersatuan India itu meruapkan ambisi dari sang raja yang ingin berkuasa dengan segala kekejaman. Hingga pada suatu saat sang raja terpengaruh oleh kebijaksanaan seorang pendeta agama budha yang bernama Upagupta sehingga raja berubah menjadi orang bijak serta belas kasihan terhadap sesama. Asoka memasuki salah satu aliran budhadan menjadi seorang biku dan bertekat mengembangkan ajaran budha ke seluruh penjuru daerah kekuasaannya.
Pada masa pemerintahan asoka sebuah muktamar besar agama budha di selenggarakan di pataliputra yang di laksanakan selama sembilan bulan dan di dalam sejarah di kenal sebagai muktamar yang ke-3 pada tahun 244 SM. Asoka adalah raja pertama di dunia yang mengutuk perperangan sebagai alat politik yang kejam dan ia pun memasuki biara da hidup sebagai petapa (tahun 233 SM). Raja meninggal sebagai petapa pada tahun 232 SM. Masa pemerintahannya hamper tak ada bandingannya dalam mutu sepanjang sejarah India. Pemerintahannya selama 40 tahun tela menjadikan budha sebagai Mazhab setempat dan sebagai agama resmi Negara. Tiadak ada informasi yang jelas tentang siapa penggantinya namun dinasti maurya berakhir pada tahun 185 SM dan di gantikan oleh kemunculan dinasti baru yaitu dinasti Sungha.
.



Daftar Pustaka
Ali, Mukti. Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press. 1988
http://rubik-riza.blogspot.com/2011/11/makalah-dinasti-maurya.htmlhttp://sejarahperadabandanbudayadunia.blogspot.com/2012/06/kerajaan-maurya-india.html
T.S.G, Mulya. India. Sedjarah dan Pergerakan Kebangsaan. Jakarta : Balai Pustaka, 1952.

http://www.buddhakkhetta.com/User/Kat1/Sub11/Art43/baca.php?com=1&id=143





[2] http://sejarahperadabandanbudayadunia.blogspot.com/2012/06/kerajaan-maurya-india.html

[3] T.S.G, Mulya. India. Sedjarah dan Pergerakan Kebangsaan. Jakarta : Balai Pustaka, 1952.

[4] http://www.buddhakkhetta.com/User/Kat1/Sub11/Art43/baca.php?com=1&id=143

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar